Mencari Kebenaran di Tengah Bias

Mencari Kebenaran di Tengah Bias

Di tengah dunia yang serba debat dan opini, terkadang muncul pertanyaan di benak kita: “Apakah manusia benar-benar bisa merasakan kebenaran“, “Apakah semuanya akan sepakat bahwa B adalah hal yang salah dan A adalah hal yang benar?“, “Ataukah justru mereka berbeda-beda dalam menangkap kebenaran?” Aku sendiri sering merasa ragu apakah kebenaran yang aku yakini adalah kebenaran sejati atau hanya khayalan semu belaka. Khayalan yang timbul dari pikiran pragmatis bahwa ini akan memberikan manfaat kepadaku.

Dalam realita sehari-hari, pemahaman terhadap kebenaran memang sering kali terdistorsi — bukan hanya oleh ketidaktahuan, tapi juga oleh nafsu dan intuisi yang telah terbentuk sejak awal. Dalam ranah psikologi modern, Jonathan Haidt menyebut ini dengan kalimat “Intuisi duluan, penalaran strategis belakangan.” Ia menjelaskan bahwa penalaran logis yang kita lakukan hampir selalu terpengaruh oleh intuisi yang datang pertama. Misalnya

Bunga — Kebahagiaan
Kebencian — Matahari
Cinta — Kanker
Kecoa — Kesepian

Dalam contoh di atas, kebanyakan pembaca akan cenderung memersepsikan matahari sebagai sesuatu yang punya sinar terik dan menyengat. Pun begitu, pembaca akan memersepsikan kanker sebagai sesuatu yang harus kita bantu pengidapnya untuk sembuh. Hal ini terjadi karena ketika seseorang membaca kata ‘kebencian’ berdampingan dengan ‘matahari’, otaknya bisa langsung membangun asosiasi negatif terhadap matahari. Padahal itu hanya asosiasi acak. Begitupun ‘cinta’ yang memberikan asosiasi postif kepada ‘kanker’.

Adapun bila penulis memberikan contoh

Cinta — Kebahagiaan
Tumbuhan — Matahari
Kebencian — Kesepian
Kecoa — Kanker

maka pembaca cenderung memersepsikan matahari sebagai sesuatu yang membawa cahaya indah serta bermanfaat bagi kehidupan dan akan memersepsikan kanker sebagai sesuatu yang menjijikan serta harus dijauhi pengidapnya agar tidak tertular. Hal ini terjadi karena ‘tumbuhan’ memberikan asosiasi positif kepada ‘matahari’, dan ‘kecoa’ memberikan asosiasi negatif kepada ‘kanker’.

Mengenal Intuisi

Afeksi-afeksi tersebut terkadang memang menuntun kita kepada kenyataan yang ada. Tapi, itu hanya accidentally true — sebuah kebetulan — yang sama sekali tidak bisa jadi jalan penuntun kebenaran.

Imam al-Ghazali, sang Hujjatul Islam, dan Jonathan Haidt, salah satu pemikir besar psikologi moral kontemporer, ternyata sepakat pada satu hal penting: akal bukanlah penguasa tertinggi dalam diri manusia.

Akal, bagi haidt, hanyalah justifikasi lawyer dari intuisi. Ia bukan hakim agung, tapi lebih mirip juru bicara yang pintar membela apa pun yang sudah ditetapkan oleh intuisi terlebih dahulu. Imam al-Ghazali, delapan abad sebelumnya, telah menyatakan hal serupa: bahwa hati adalah raja, sedangkan akal hanyalah wazir — seorang menteri yang memberi masukan, tapi bukan pengambil keputusan utama.

Seringkali, orang modern menganggap intuisi hanyalah insting biologis, mirip reaksi naluriah pada binatang. Tapi Haidt membantahnya. Ia menyebut bahwa intuisi — atau respons hati — justru merupakan mekanisme kognitif pertama yang bekerja jauh lebih cepat dari rasionalitas.

Maka dari tesis dua tokoh di atas, kita bisa menyimpulkan: bahwa setiap keputusan yang kita ambil adalah cermin dari reaksi hati. Jika hati marah, maka akal akan mencari alasan yang membenarkan kemarahan itu. Jika hati dengki, maka akal akan merancang argumen yang menyudutkan orang yang didengki.

Oleh karena itu, jika intuisi kita bisa begitu mudah dibentuk oleh asosiasi dan pengalaman acak, maka kebenaran sejati tak bisa bergantung pada intuisi saja. Kita butuh cahaya dari luar diri kita — dari langit, yaitu wahyu yang turun dari Dzat yang esensi dan eksistensinya tidak terpengaruh oleh sesuatu apapun sehingga Dia dapat mengetahui kebenaran yang hakiki dan kebaikan yang absolut. Tanpa pedoman dari Allah, kebenaran bisa menjadi bayangan samar yang dibentuk oleh bias.

Wahyu Sang Pengkalibrasi

Di awal sebuah buku, tak jarang kita temukan permintaan maaf dari seorang penulis atas kekurangan yang ada di dalam bukunya. Mari kita lihat bagaimana Al-Qur’an memulai isinya dengan lantang mengatakan:

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

(Al-Baqarah 2:2) Adalah sebuah buku yang tak ada satupun keraguan terhadap isinya. Juga adalah petunjuk kebenaran bagi orang-orang yang bertakwa.

Klaim ini tentu bukan klaim palsu. Jika kita menemukan klaim itu dalam karya manusia mungkin kita akan tertawa karena menemukan banyak kesalahan di dalamnya. Namun Al-Qur’an berbeda, dari ayat pertama hingga ayat terakhir tak ada satupun informasi yang salah. Bahkan salah satu ayatnya menantang siapapun yang mampu membuat sebuah buku pedoman yang bisa menandinginya. Baik dari segi keindahan bahasa, maupun kebenaran informasi di dalamnya. Sudah 14 abad sejak tantangan itu dibuat dan tidak ada satupun orang yang sanggup menandinginya.

Bagi saya indikasi seperti ini sudah bisa menunjukkan bahwa isi Al-Qur’an tidak dapat diragukan kebenarannya. Kalaupun ada, pasti hanya kesalahan yang dilakukan oleh penafsirnya, bukan Al-Qur’annya. Dan kalaupun ada, pasti akan tumbuh seribu tulisan yang membatah kritisan tersebut.

Dalam sains modern, kita memahami bahwa bumi itu berbentuk oval, bukan datar. Namun dalam Al-Qur’an — sebagaimana klaim para pengkritiknya — bumi digambarkan berbentuk datar.

وَإِلَى ٱلْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

(Al-Ghaasyiyah 88:20)  : Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?

Yang mereka tidak sadari adalah bahwa kata ‘dihamparkan’ itu tidak mungkin bisa diwujudkan apabila bumi berbentuk datar. Kenapa? karena jika kita berada di ujung bumi yang datar itu, kita tidak akan melihat hamparan bumi lagi tetapi hamparan jurang yang tak berujung.

Kritik lain yang sering dilontarkan adalah terkait hukum qishash, yaitu hukuman mati bagi pelaku pembunuhan. Mereka berkata: “Kalian (orang Islam) mengatakan Allah adalah Dzat yang sangat penyayang. Bagaimana bisa entitas yang penyayang menyuruh untuk membunuh hamba-Nya. Tentu ini sangat berlawanan”

Untuk menjawab ini Allah Berfirman:

وَلَكُمْ فِى ٱلْقِصَاصِ حَيَوٰةٌ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

(Al-Baqarah 2:179)  : Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.

Bahwa hukuman mati bukanlah pelanggaran hak asasi manusia (HAM), justru hal tersebut malah melestarikan HAM karena orang yang takut dihukum mati tidak akan berani membunuh seseorang. Bukankah bagian dari HAM kita mendapat rasa aman dari seseorang yang ingin membunuh kita?

Beginilah isi Al-Qur’an: petunjuk yang membebaskan manusia dari penilaian yang hanya didasarkan pada perasaan. Jika hanya mengandalkan kemampuan dalam diri, manusia tidak akan pernah sampai pada konsep qishash. Karena secara zahir, hukum ini memang terlihat berlawanan dengan ide “penyayang.” Tapi dalam konteks yang utuh, qishash justru menjadi pelindung kehidupan.

Intuisi kita itu seperti kompas yang diwariskan oleh keluarga, lingkungan, dan pengalaman masa lalu. Kalau medan magnet di sekitar kita rusak, kompas itu juga bisa kacau. Wahyu datang bukan untuk menggantikan kompas, tapi untuk mengkalibrasinya. Karena hal inilah Allah ﷻ mengutus Nabi ﷺ dan membersamainya dengan buku pedoman agar kita bisa memahami kebenaran dengan konsep-konsep yang terbangun otomatis dari pergaulan kita setiap hari bersama Al-Qur’an dan Hadis.

Apa Yang Terlewatkan?

Belakangan ramai serial Bidaah, sebuah kisah tentang Walid — pemimpin aliran sesat di Malaysia. Serial ini menunjukkan bagaimana nash-nash syariah bisa ditafsirkan secara serampangan. Model penyimpangan seperti ini bukanlah fiksi belaka. Ia ada dan sering lolos dari radar kita. Salah satu contohnya adalah penafsiran terhadap ayat pologami:

فَٱنكِحُوا۟ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثْنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَ

(An-Nisa 4:3)  : maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.

salah satu orang —yang dianggap ulama oleh pengikutnya— pernah mengatakan ayat ini adalah bukti kuat bahwa hukum asal menikah adalah dua, kalau mampu tiga, dan kalau hebat empat. Argumennya? Karena Allah tidak menyebut “nikahilah satu” sebagai perintah utama, maka menikah satu istri hanyalah cadangan bila tak sanggup berlaku adil.

Sekilas terdengar meyakinkan. Logis. Masuk akal. Tapi ini adalah contoh nyata bagaimana akal bisa jadi budak intuisi. Ia abaikan seluruh konteks ayat yang mana ayat ini turun dalam konteks pengasuhan anak yatim—agar kita tidak memisahkan anak dari ibunya saat mengurusnya. Maka menikahinya bukan soal kuantitas, tapi soal tanggung jawab.
Memahami ayat tanpa konteks itu seperti minum obat tanpa resep: bisa salah dosis, salah fungsi, bahkan mematikan.

Inilah yang sering terlewatkan oleh kita. Dari contoh barusan kita bisa menyimpulkan: bahwa mengetahui kebenaran saja tidak cukup. Kalau memang cukup, sudah barang pasti iblis akan taat ketika diperintah untuk bersujud kepada Nabi Adam. Sayangnya, ego telah mengalahkan akalnya dan akhirnya ia menjadi makhluk terlaknat sampai hari kiamat. Guru saya sering mengatakan bahwa orang pintar yang tidak menggunakan hatinya itu sedang “ngiblis” — menjadi seperti iblis.

Akal yang berdiri sendiri tidak cukup untuk merefleksikan kebenaran, sekalipun cahaya yang meneranginya adalah Al-Qur’an. Jonathan Haidt pernah mengutip sebuah penelitian tentang individu yang mengalami kerusakan pada bagian otak yang memproses emosi—fungsi kognitifnya masih utuh, namun emosinya nyaris nol. Mereka bisa memandang foto-foto paling membahagiakan atau menjijikkan tanpa merasakan apa-apa. Yang mengejutkan: mereka tetap tahu mana yang benar dan salah secara teori, dan bahkan mendapat skor tinggi dalam tes penalaran moral ala Kohlberg.

Tapi ketika mereka harus membuat keputusan nyata dalam hidup—baik dalam pekerjaan, keluarga, maupun relasi sosial—mereka justru gagal. Mereka membuat keputusan yang konyol, impulsif, atau bahkan tak bisa memutuskan sama sekali.

Penelitian ini membuka mata: pengetahuan rasional tentang benar-salah tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan atau tindakan yang benar. Tanpa sentuhan afeksi dan intuisi moral—yang bersemayam dalam hati—akal kehilangan arah.

Maka pernyataan para filsuf platonik bahwa akal bisa menjangkau kebenaran mutlak tanpa keterlibatan rasa menjadi gugur. Dalam cahaya wahyu Islam, hati bukan sekadar pelengkap dari akal, tapi gerbang utama tempat cahaya kebenaran masuk dan diterjemahkan.

Hati yang kotor akan memahami Al-Qur’an sesuai afeksi awalnya, yaitu kesenagan dunia dan kejahatan. Itulah mengapa Tasawuf memfokuskan pada tazkiyatun nafs — pembersihan hati — karena hati yang sakit akan selalu menyimpulkan dunia dengan cara yang salah. Sedangkan hati yang jernih, akan mengarahkan akal kepada kebenaran yang hakiki.

Sudahkah hari ini kita membiarkan diri kita dibentuk oleh cahaya Al-Qur’an, bukan sekadar bias pikiran kita sendiri? Ataukah kita acuh terhadap kebenaran dan lebih mementingkan perasaan ketika memberikan penilaian? Terakhir, intuisi tanpa wahyu bisa jadi hanya gema dari luka yang belum sembuh.

Khafka.id
Founder

Seorang penulis dalam bidang Islamic Self-Improvement. Sedang menimba ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo. Mulai tertarik dalam kepenulisan sejak duduk di bangku kelas 11 Madrasah Aliyah. Saat itu ditunjuk menjadi pimpinan redaksi majalah Khoum MA Ali Maksum. Pada tahun yang sama menjadi juara dua lomba Sayembara Esai Nasional yang diadakan oleh Alif.id dengan judul "Khilafah di Indonesia, Kenapa Tidak?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like