Bacaan Bagi Pendosa Seperti Saya
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
Setiap manusia adalah orang yang sering berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik pembuat kesalahan adalah mereka yang selalu kembali ke jalurnya.
Dalam kehidupan dunia yang penuh tipu daya ini, kita sebagai makhluk lemah yang tak memiliki kekuatan selalu terlena akan keindahan yang dimiliki. Terpeleset berkali-kali untuk kemudian bangun dan melanjutkan perjalanan adalah pekerjaan sehari-hari. Tak perlu berpikir tentang dunia yang sempurna, ideal dan tanpa adanya dosa di dalamnya. Imam Ibn Athoillah mengatakan
لَا تَسْتَغْرِبْ وُقُوْعَ الأَكْدَارِ مَا دُمْتُ فِيْ هَذِهِ الدَّارِ. فَإِنَّهَا مَا أَبْرَزَتْ إِلاَّ مَا هُوَ مُسْتَحِقُّ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا
Jangan merasa aneh terhadap terjadinya kesalahan selama kamu masih di dunia. Karena memang dunia akan menampakkan sesuatu yang sesuai dengan sifatnya (kotor)
Dunia ini memang seperti itu, tidak perlu diubah-ubah. Lha memang kita siapa mau mengatur-ngatur dunia harus begini harus begitu. Tugas kita adalah menghamba kepada-Nya, bukan mengatur-Nya tentang bagaimana Dia menjalankan dunia ini.
Memang Diri Kita Seperti Itu
Begitulah setiap manusia, selalu berbuat dosa dan kesalahan kepada Allah. Tetapi kemudian Nabi Muhammad ﷺ memberikan solusi, bahwa sebaik-baik pendosa adalah mereka yang selalu bertaubat. Bertaubat bukan sesuatu yang hina, justru ia adalah jalan pertama yang harus ditempuh untuk menuju tingkat selanjutnya. Lihatlah kitab-kitab tasawuf karya ulama, bagaimana mereka selalu memulai kitabnya dengan pembahasan taubat.
Taubat berarti kembali pada jalur yang benar setelah bergerak melenceng sedikit darinya. Adapun penyesalan, adalah rukun yang sangat penting dalam bertaubat. Bahkan ketika kembali pada jalur yang benar tanpa adanya penyesalan, bisa jadi itu belum bisa dinamakan sebagai taubat. Maka dari itu, sekecil apapun dosa yang kita lakukan, usahakan untuk selalu menyesalinya. Ini adalah bukan tentang seberapa kecil dosa yang kita lakukan, tetapi seberapa besar Dzat yang kita durhakai.
Bayangkan saja, Kyai memberikan tugas kemudian kita melalaikannya. Kita yang seorang santri berani-beraninya melalaikan dan tidak mengerjakan tugas tersebut. Nah, itu saja baru Kyai, sosok yang masih manusia dan masih sama-sama kurangnya dengan kita. Lalu bagaimana jika tugas itu diberikan oleh Dzat yang paling besar, paling mulia, Allah ﷻ. Masih berani?
Kendati demikian, bukan berarti kita harus selalu terpuruk dan berputus asa akan rahmat-Nya ketika melakukan sebuah dosa yang bahkan terus-menerus kita lakukan. Jika memang Kyai tak sebesar Allah, maka sifat welas asih yang dimilikinya pun tak sebesar Allah juga. Kita sangat beruntung memiliki Tuhan Yang Maha Welas Asih dan Penyayang kepada para Hamba-Nya. Sebanyak apapun dosa yang pernah dilakukan, kalau kita masih menyesalinya, ingin menjadi lebih baik, kembali ke jalur yang benar, maka Allah akan selalu membukakan pintu maaf-Nya.
Dosa memang suatu kesalahan, tapi lebih besar dari itu adalah berputus asa dari rahmat-Nya. Berputus asa yang seperti apa? yaitu ketika kita sudah tidak percaya lagi bahwa Allah akan mengampuni kesalahan kita, memberikan kehidupan yang lebih baik sekaligus menyelamatkan kita dari dosa-dosa yang terus mengekang kita. Kenapa seperti itu? Ya, karena ketika menganggap dosa kita terlalu besar hingga berputus asa dari rahmat-Nya, seakan-akan kita meyakini rahmat Allah tak cukup besar untuk mengcover berbagai kesalahan selama ini. Kalau dosa saja kita anggap sebagai sesuatu yang hina, remeh dan menjijikan, lalu kenapa kita letakkan rahmat-Nya Allah di bawah dosa kita? Dalam artian rahmatnya Allah tak sebesar dosa kita. Bukankah itu lebih buruk dari dosa itu sendiri? Menyifati rahmat-Nya Allah di bawah sesuatu yang hina.
Kalau tidak bisa lepas dari menjadi seorang pendosa, setidaknya jadilah pendosa yang baik, yaitu pendosa yang selalu bertaubat setiap kali melakukan dosa.
Pendosa yang Dicintai Allah
Kata siapa seorang pendosa tidak bisa dicintai Allah? Kata siapa mereka tidak disayangi Allah? Justru harusnya pendosa itulah yang lebih disayang karena dialah yang paling dekat dengan jurang kehancuran, begitu kan?
۞ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ
(Al Baqarah 2:222) : Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.
Ayat diatas sangat jelas memberi tahu bahwa Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat, introspeksi diri dan menyesali dosa-dosa yang dilakukannya. Kapan lagi kita punya cara untuk dicintai Allah?! Dicintai orang seperti doi saja sudah membuat kita klepek-klepek, apalagi dicintai Allah.
Cara Mendapat Cintanya Allah
Kita itu kalau sudah tahu pendosa, mbok yo cepat-cepat bertaubat, cepat-cepat juga untuk meminta ampunan. Masa, berbuat dosanya kesusu tapi taubatnya ditunda-tunda, hehe.
۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ
(Ali Imran 3:133) : Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu.
Mendapat ampunan dari Allah itu banyak sekali caranya, yang paling umum adalah istighfar. Cuman ya jangan hanya istighfar saja dong, lakukan juga kebaikan; sholat, baca Al-Qur’an, sedekah, nyapu masjid, azan, membantu orang dan apapun itu yang nilainya ibadah. Sebagaimana yang kita tahu bahwa kebaikan akan menghapus catatan dosa yang telah diperbuat.
Sayang seribu sayang, ada satu ibadah yang itu merupakan ibadah terbaik, ibadah yang derajatnya tinggi di sisi-Nya, ibadah yang menjadi pondasi agama di hati kita dan justru ibadah yang sering dianggap remeh. Ya, sholat fardhu. Entah yang melakukan atau yang meninggalkan, sholat fardu sering kali dianggap sebagai ibadah yang biasa-biasa saja. Mungkin, sedekah lima miliar akan dianggap lebih baik daripada sholat fardu. Mungkin, puasa sunnah senin-kamis juga dipandang seperti itu, apalagi tirakat puasa dawud yang lebih ekstrim. Sholat tahajud di malam hari juga pasti terlihat lebih gagah daripada sholat wajib lima waktu. Padahal, tidak akan pernah sekalipun ibadah sunnah mengalahkan ibadah fardu.
Ibadah sunnah itu adalah hadiah yang kita berikan kepada Allah, sedang ibadah fardu adalah hadiah yang diberikan Allah kepada kita. Tentu Allah akan lebih senang ketika kita menghargai apa yang Dia berikan daripada apa yang kita berikan kepada-Nya.
Ayat di atas memerintahkan kita untuk bersegera dan bergerak cepat terhadap sesuatu yang memiliki potensi ampunan Allah di dalamnya. Lalu, sesuatu apalagi yang memiliki potensi ampunan lebih besar daripada sholat yang merupakan ibadah terbaik? Juga, sholat apalagi yang lebih baik dari sholat fardu? Nah, jadi tidak usah muluk-muluk mencari amalan penghilang dosa, istighfar seribu kali, ziyarah sana-sini, sedekah setiap hari, kalau ternyata kewajiban sholat fardu sendiri saja belum diperhatikan.
Perintah untuk bersegera di atas agaknya harus kita implementasikan dalam bentuk semangat ketika mendengar azan, semangat ketika berjalan ke masjid, dan semangat ketika ingin melaksanakan sholat. Jangan sampai kita seperti orang-orang munafik yang ketika hendak sholat perasaannya malas, aras-arasan dan merasa berat. Andai ada satu amal yang harus kita beri porsi semangat lebih di dalamnya, maka sholat lima waktu adalah amal yang paling berhak.
Imam Ibn Athoillah mengatakan seperti ini
الصَّلاَةُ مُطَّهِرَةٌ لِلْقُلُوْبِ مِنْ أَدْنَاسِ الذُّنُوْبِ، وَاسْتِفْتَاحٌ لِبَابِ الْغُيُوْبِ
Sholat itu membersihkan hati dari kotoran-kotoran yang disebabkan oleh dosa dan membuka pintu-pintu keajaiban yang tidak pernah kita lihat.
Dosa Tak Selalu Buruk
Ya, dosa memanglah sebuah kesalahan sekaligus sebuah batasan yang harus kita jaga agar tidak terjerumus di dalamnya. Dosa harus selalu dipandang sebagai sesuatu yang tabu, sesuatu yang salah dan tidak boleh dinormalisasikan. Tapi yasudah, itukan perbuatan yang sudah kita lakukan, bukan yang akan kita lakukan. Justru tidak boleh ada namanya dosa yang akan kita lakukan, sebisa mungkin harus menjaga diri dari hal tersebut.
Dosa yang telah kita perbuat kan sudah berlalu, ya? Kalau begitu, kita tidak bisa dong berbuat apa-apa untuk kembali ke masa lalu dan mengubahnya?! Maka yang bisa kita lakukan kemudian adalah mencari tahu bagaimana cara menyikapi sebuah dosa yang sudah kita lakukan.
Imam Ibn Athoillah pernah mengatakan
مَعْصِيَةٌ أَوْرَثَتْ ذُلاًّ وَافْتِقَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا
Sebuah dosa yang mewariskan rasa rendah diri dan kebutuhan kita kepada Allah itu lebih baik daripada sebuah ketaatan yang mewariskan rasa gagah dan kesombongan di dalam diri.
Jadi yang terpenting dalam hidup adalah bagaimana kita memposisikan diri kepada Allah, bukan malah kepada amal itu sendiri. Beramal tapi tidak mengetahui kedudukan Allah sama saja seperti berjalan tanpa memiliki arah dan tujuan yang pasti. Ya, kita tidak akan pernah sampai.
Dari teks di atas, kiranya ada 4 tingkatan beramal:
1. Ketaatan yang mewariskan rasa rendah diri dan kebutuhan kepada Allah.
2. Dosa yang mewariskan rasa rendah diri dan kebutuhan kepada Allah.
3. Ketaatan yang mewariskan rasa gagah dan kesombongan di dalam diri.
4. Dosa yang mewariskan rasa gagah dan kesombongan di dalam diri.
Di teks lain, imam Ibn Athoillah mengatakan
أَنْتَ إِلَى حِلْمِهِ إِذَا أَطَعْتَهُ أَحْوَجُ مِنْكَ إِلَيْهِ إِذَا عَصَيْتَهُ
Engkau lebih butuh sifat “hilmnya Allah” ketika berbuat taat daripada ketika berbuat dosa.
Sifat al-hilm sendiri adalah sebuah sifat yang menunjukan kesabaran atas kebodohan dan kepolosan seseorang. Ketika kita taat, dengan polosnya kita menganggap bahwa amal akan menyelamatkan kita dan bukan Allah, pahala akan memasukan kita ke surga dan bukan rahmat-Nya, istighfar tidak diperlukan lagi ketika sehari-hari kita berbuat taat dan sebagainya. Sedang ketika berbuat dosa, semua makna itu seketika muncul dalam diri. Merasa amal yang dulu kita lakukan tidak bisa menyelamatkan karena Allah yang akan menyalamatkan. Pahala atas taat yang dulu dilakukan tidak pantas memasukan kita ke surga akan tetapi rahmat dan anugerah-Nya yang berkehendak. Istighfar ternyata perlu kita lakukan sehari-hari, karena ada beberapa dosa yang tak sengaja dilakukan tanpa kita sadari.
Hikmah dari Imam Ibn Athoillah yang lain:
خَيْرُ أَوْقَاتِكَ وَقْتٌ تَشْهَدُ فِيْهِ وُجُوْدَ فَاقَتِكَ وَتُرَدُّ فِيْهِ إِلَى وُجُوْدِ ذِلَّتِكَ
Sebaik-baik waktumu adalah waktu yang di dalamnya kamu melihat betapa butuhnya dirimu kepada Allah dan waktu di mana kamu kembali kepada rasa rendah di hadapan-Nya.
Secercah Cahaya Harapan yang Tersisa
إِذَا وَقَعَ مِنْكَ ذَنْبٌ فَلاَ يَكُنْ سَبَبًا لِيَأْسِكَ مِنْ حُصُوْلِ الاِسْتِقَامَةِ مَعَ رَبِّكَ، فَقَدْ يَكُوْنُ ذَلِكَ آخِرُ ذَنْبٍ قُدِّرَ عَلَيْكَ
Kalau sebuah dosa datang dari dirimu, maka jangan jadikan itu penyebab keputus-asaanmu untuk terus melakukan ketaatan yang telah diperintahkan Allah. Mungkin saja itu dosa terakhir yang datang dari dirimu.
Kita tidak pernah tahu kapan umur kita habis, kapan ruh kita diambil, dan kapan kita berpisah dari dunia, yang mana jika itu semua terjadi, berarti kita telah berpisah dari kesempatan untuk bertaubat. Yang jelas selama kita masih di dunia, maka kesempatan untuk bertaubat tidak akan pernah tertutup kecuali jika kita sendiri yang enggan melakukannya.
Bisa jadi, ketika kita melakukan sebuah ketaatan (sholat jamaah misalnya) sebagai bentuk taubat dari dosa yang telah kita perbuat lalu satu jam setelahnya kita meninggal dunia, maka Itu berarti dosa yang kita perbuat sebelum sholat jamaah tadi adalah dosa terakhir yang sudah kita usahakan pengampunannya. Dan yaa, tentu sisanya adalah menyerahkan urusan itu kepada Allah Yang Sangat Pengampun, Sangat Menyayangi dan Sangat Mengasihi.
مَنِ اسْتَغْرَبَ أَنْ يُنْقِذَهُ اللهُ مِنْ شَهْوَتِهِ، وَأَنْ يُخْرِجَهُ مِنْ وُجُوْدِ غَفْلَتِهِ فَقَدِ اسْتَعْجَزَ الْقُدْرَةُ الإِلَهِيَّة، [ ۞ وَكَانَ ٱللهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ مُّقْتَدِرًا ]
Orang yang menganggap dirinya tidak akan selamat dari hawa nafsu yang menggebu serta tidak mungkin bisa keluar dari kelalaian dirinya, maka orang tersebut benar-benar telah menganggap remeh kuasa yang dimiliki Allah. “Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Allah itu Maha Kuasa atas segala hal yang terjadi di dunia ini. Kalau hanya untuk menghilangkan nafsumu sih, ya jelas nggak ada apa-apanya dibanding penciptaan langit dan bumi. Coba sesekali main ke hutan, laut atau gunung, lalu lihat bagaimana luasnya bumi ini. Bagaimana semua ini sudah di atur oleh Allah. Bagaimana itu menunjukan kekuasaan Allah atas segala hal.
مَنْ عَبَّرَ مِنْ بِسَاطِ إِحْسَانِهِ أَصْمَتَتْهُ الإِسَاءَةُ، وَمَنْ عَبَّرَ مِنْ بِسَاطِ إِحْسَانِ اللهِ إِلَيْهِ لَمْ يُصْمِتْ إِذَا أَسَاءَ
Barang siapa yang berpikir atas dasar kebaikan yang telah ia lakukan maka pikirannya akan terbungkam ketika ia berbuat buruk. Dan barang siapa yang berpikir atas kebaikan Allah ﷻ maka tidak akan terbungkam walaupun telah berbuat kesalahan
Dunia ini bukan selalu tentang kita. Malah, selamanya bukan tentang kita. Ya, tetapi adalah tentang Allah. Kalau kita selalu mengukur dunia dengan kebaikkan yang kita lakukan, seketika kita akan terdiam ketika melakukan perbuatan buruk. Maka dari itu, selalu ukur dan anggap bahwa segala sesuatu itu datangnya dari Allah tanpa adanya andil sedikitpun dari diri kita.
Ketika kita sedang taat, maka lihatlah bagaimana Allah memberikan motivasi, semangat, dan dorongan untuk melakukannya. Bagaimana kita dipermudah untuk melangkah menuju kebaikan tersebut. Sebaliknya ketika kita sedang maksiat, maka lihatlah bagaimana Allah akan mengampuni kita, memaafkan dan memberikan kita kesempatan yang lain. Juga bagaimana Allah masih menakdirkan kita untuk meletakkan kepala di tanah demi bersujud kepada-Nya.
Jadi jangan selalu tentang kita, ah. Memangnya kita MC dari dunia ini? Kita itu hanyalah satu dari banyaknya manusia yang sudah hidup sejak zaman Nabi Adam sampai sekarang. Gausah sok jadi MC (Main Character) deh.
Secercah harapan yang lain dikatakan oleh Imam Ibn Athoillah dalam munajatnya
إِلَهِي، إِنَّكَ تَعْلَمُ وَإِنْ لَمْ تَدُمِ الطَّاعَةُ مِنِّي فِعْلاً وَجَزْمًا فَقَدْ دَامَتْ مَحَبَّةً وَعَزْمًا
Ya Allah, sungguh Engkau pasti tahu, meski ketaatan itu tidak “selalu” aku kerjakan, tapi pasti itu “selalu” aku cintai dan aku niatkan.
Itu adalah munajat dan pengaduan seorang hamba kepada Allah atas ketaatan yang tidak selalu dikerjakan. Walaupun tidak 100% mengerjakan semua ketaatan, kita semua pasti selalu cinta kepadanya dan ingin terus melakukannya.
Setelah halaman dimuat, matikan data seluler untuk terhubung dengan dirimu 💙


