Dunia: Salah Paham yang Berulang
Dunia adalah bangkai yang menjijikan. Begitulah kurang lebih makna dari hadis Nabi ﷺ
الدُنْيَا جِيْفَةٌ قذرَةٌ مَذرَةٌ
Dunia adalah bangkai kotor yang busuk
Tidak sedikit dari pendakwah zaman sekarang yang mengajak umatnya untuk menjauhi dunia dan berhijrah ke jalan yang benar. Mereka mengatakan bahwa dunia adalah tipuan belaka untuk menguji orang muslim apakah dia terlena atau tidak. Sebagaimana ungkapan masyhur:
الدُنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
Dunia adalah penjaranya orang mukmin dan surganya orang kafir
Berhijrah merupakan tren positif yang terjadi dekade belakangan ini. Orang-orang membuat gerakan berpaling dari dunia dan mendekatkan diri kepada akhirat. Para pengkaji ilmu tasawuf sendiri mengatakan bahwa dunia dan akhirat itu laksana timur dan barat, kalau kalian pergi ke satu sisi, maka kalian akan menjauh dari sisi yang lain. Dengan demikian, berhijrah kepada akhirat artinya menjauh dari kehidupan dunia.
Kesalahpahaman
Benar sekali pendapat yang menjelaskan bahwa dunia adalah tipu daya, bangkai, dan sebagainya. Kita tidak bisa mengelak bahwa banyak orang yang tertipu karena dunia. Dia yang kaya, yang miskin, yang tua, yang muda, dan yang-yang lainnya. Semuanya berpotensi untuk terlena dengan indah dan hijaunya dunia.
Tapi, alangkah baiknya kita memperdalam pemahaman kita terhadap dunia, karena jauh di sana ada makna yang belum kita ketahui tentang dunia. Kok bisa? Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ تَسُبُّوْا الدُّنْيَا فَنِعْمَتْ مَطِيَّةُ الْمُؤْمِنِ عَلَيْهَا يَبْلُغُ الْخَيْرَ وَبِهَا يَنْجُوْ مِنَ الشَّرِّ
Janganlah kalian mencela dunia karena ia adalah tunggangannya orang mukmin. Di atasnya dia akan mencapai kepada kebaikan. Dengannya dia akan selamat dari keburukan.
Tidaklah Rasulullah ﷺ menyabdakan A di satu waktu kemudian menyabdakan B yang bertentangan dengan A di waktu yang lain, kecuali beliau ﷺ ingin mengajarkan kepada kita bahwa ada makna yang lebih dalam daripada makna zahir yang diungkapkan beliau.
Mengenal Dunia Lebih Dalam
Dalam ilmu hukum Islam, kita mengenal sebuah kaidah yang berbunyi:
اَلْحُكْمُ عَلَى الشَّيْءِ فَرْعٌ عَنْ تَصَوُّرِهِ
Menilai sesuatu itu merupakan cabang dari konsepsinya.
Kita juga mengenal:
اَلْحُكْمُ يَدُوْرُ مَعَ عِلَّتِهِ
Sebuah hukum itu berputar sesuai dengan alasannya.
Maka dari itu kita harus mengonsepsikan (mengenal) apa itu dunia, dan lebih jauh dari itu adalah mengetahui alasan kenapa dunia dianggap sebagai sesuatu yang buruk.
Dalam kita Mu’jam Al-Ghany dunia diartikan sebagai زَعْزَعَ كُلَّ شَيْءٍ, guncangan dari setiap sesuatu. Dalam Al-Mu’jam Al-Mu’ashirah, dunia diartikan sebagai الْحَيَاةُ الْحَاضِرَةُ, kehidupan sekarang. Artinya, dunia adalah lawan kata dari akhirat yang bermakna kehidupan setelah kematian nanti.
Al-Qur’an sendiri ketika membahas dunia memiliki beberapa redaksi:
وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ
(Ali Imran 3:185) : Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ
(Al An’aam 6:32) : Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka.
وَٱضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا كَمَآءٍ أَنزَلْنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخْتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ ٱلرِّيَٰحُ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ مُّقْتَدِرًا
(Al Kahfi 18:45) : Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.
ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمًا ۖ وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ
(Al Hadiid 57:20) : Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
Semua redaksi ayat di atas mengarah pada kesimpulan bahwa dunia adalah sesuatu yang semu dan maya, tidak memiliki wujud yang abadi dan tidak pantas untuk diperjuangkan. Jika kita bedah lebih dalam dari derivasinya, kata الدُنْيَا memiliki kaitan dengan kata ُالدَّنِيْء yang artinya “Yang hina”. Begitupun kata دَانَ يَدِيْنُ دِيْنًا yang artinya “Merendah dan hina”.
Dengan semua makna ini, maka bisa kita ambil kesimpulan bahwasanya dunia adalah tempat terkumpulnya hal-hal buruk nan hina. Ini selaras dengan perkataan Al-‘Arif Billah Ibn Athoillah As-Sakandary dalam kitab hikamnya:
لاَ تَسْتَغْرِبْ وُقُوْعَ الأَكْدَارِ مَا دُمْتَ فِيْ هَذِهِ الدَّارِ، فَإِنَّهَا مَا أَبْرَزَتْ إِلاَّ مَا هُوَ مُسْتَحِقُّ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا
Janganlah kamu heran atas terjadinya keburukan selama kamu masih di dunia ini. Karena sesuatu akan tampak sesuai dengan sifatnya.
Lalu, mengapa Rasulullah ﷺ melarang kita untuk mencela dunia? Mengapa juga beliau mengatakan bahwa dunia adalah wasilah penyelamat kita dari keburukan?
Sebuah Alasan
Nyatanya, dunia itu tak selamanya buruk. Kalau tidak, Allah ﷻ tidak mungkin mengajarkan kita berdoa untuk kepentingan dunia dalam doa sapu jagad:
رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
(Al Baqarah 2:201) : “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.
Walaupun kita juga harus melihat bahwa ayat sebelumnya adalah celaan kepada orang yang hanya meminta kebaikan di dunia saja. Artinya, meminta kebaikan di dunia itu boleh kalau dibarengi dengan meminta kebaikan di akhirat.
Hal menariknya adalah, ternyata Allah ﷻ tidak menyebutkan tentang orang yang berdoa untuk akhirat saja. Menurut Imam Fakhruddin Ar-Razy dalam kitab tafsirnya Mafatih Al-Ghaib, berdoa untuk akhirat saja itu tidak disyariatkan. Beliau berkata bahwa kalau saja manusia itu diberikan rasa sakit di salah satu syaraf saja oleh Allah ﷻ, maka pikiran manusia akan kacau dan kemudian tidak bisa melakukan ketaatan kepada Allah ﷻ serta tidak bisa mengingat-Nya.
Maka dari itu, dunia yang dikecam oleh Rasulullah ﷺ adalah dunia yang membuat kita lupa terhadap akhirat. Hal ini dikuatkan dengan pengecualian beliau dalam hadisnya:
الدُنْيَا مَلْعُوْنَةٌ، مَلْعُوْنٌ مَا فِيْهَا إِلاَّ ذِكْرَ اللهِ وَمَا وَالاَهُ، وَعَالِمٌ أو مُتَعَلِّمٌ
Dunia itu terlaknat. Apapun yang ada di dalamnya terlaknat kecuali hal-hal yang mengingatkan kepada Allah dan kepada hal-hal yang dicintai Allah di dalam dunia tersebut, atau orang berilmu dan ia yang sedang belajar
Adapun dunia yang membawa kita kepada Allah dan hal yang dicintai Allah, maka dia tidak termasuk dalam dunia yang dikecam oleh Rasulullah ﷺ. Bahkan beliau melarang kita untuk mencela dunia yang seperti ini.
Kejarlah Duniamu
Judul yang sangat kontroversi di saat para dai sedang menyerukan untuk menjauhi dunia. Tapi dengan segala penjelasan yang sudah dipaparkan, tentu pembaca Khafka yang cerdas sudah bisa menyimpulkan apa yang dimaksud dengan mengejar dunia di sini. Setelah mengetahui batasan serta pengertian dari kata dunia, maka kita bisa lebih seimbang dalam menjalani kehidupan.
Perkara dunia yang tidak melalaikan kita dari Allah adalah akhirat, dan perkara dunia yang melalaikan kita dari-Nya itulah yang dimaksud dengan dunia. Jika mengejar karir dilakukan dengan batas tidak melalaikan kita dari Allah ﷻ, maka hal tersebut bukan termasuk dunia. Mengumpulkan harta pun begitu, selama kita tidak lalai terhadap kehidupan akhirat, maka itu bukan termasuk dari dunia. Syekh Yusri Al-Hasani sangat sering mengatakan tiga prinsip penting dalam kehidupan:
عِبَادَةُ اللهِ، عِمَارَةٌ الأَرْضِ، النُّصْحُ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Beribadah kepada Allah. Melestarikan buminya Allah. Menasihati sesama muslim.
Salah satu bentuk dari melestarikan buminya Allah adalah dengan menjalani profesi yang telah diamanahkan kepada kita sebaik mungkin.
Dahulu Sahabat Utsman bin Affan r.a., dan Sahabat Abdurrahman bin Auf r.a., adalah seorang pedagang kaya raya. Dan kita tahu bahwa pedagang itu pasti berkaitan dengan harta duniawai, yaitu uang dan barang dagangan. Tapi, Rasulullah ﷺ tidak pernah mengingkari profesi beliau berdua. Artinya, mengejar karir dan menjalankan profesi bukan sesuatu yang buruk selama tidak melalaikan kita dari Allah. Bahkan beliau berdua merupakan sahabat yang memiliki andil besar dalam berkembangnya Islam. Dan salah satu darinya adalah seorang Al-Khulafa Ar-Rasyidun.
Banyak sekali kisah-kisah orang yang sukses secara duniawi namun tetap menjadi pribadi yang zuhud. Karena sebenarnya zuhud dan dunia bukanlah hal yang berlawanan sehingga tidak bisa menjadi satu. Mengutip kalam dari Kyai saya, Mbah Ali Maksum, bahwa zuhud itu adalah kita melihat dunia seperti debu. Umumnya orang melihat debu, ya kalau hilang gak peduli, kalau ada di tangan kita gak terlalu kepikiran. Selama hati tidak tertaut dengan dunia, maka kita termasuk orang yang zuhud.
Sebagai pembanding, sebuah ibadah yang melalaikan seseorang dari Allah, seperti mereka yang beribadah hanya karena ria atau mencari muka agar dianggap hebat, baik dan keren di kalangan manusia. Maka, ibadah yang seperti ini bisa kita anggap sebagai dunia dan bukan akhirat, karena tujuan utamanya adalah manusia bukan Allah ﷻ.
Jadi, kejarlah karir dan profesi sampai batas yang tidak melalaikan kita dari Allah ﷻ. Lebih-lebih, jika profesi itu berpotensi membantu kita untuk memperjuangkan Islam, melestarikan bumi, atau membantu sesama muslim.
Setelah halaman dimuat, matikan data seluler untuk terhubung dengan dirimu 💙


