Diamnya Zuhud, Bisingnya Dunia
“Dunia itu cuma sementara, jadi tak perlu ngoyo untuk mengejarnya.” Kalimat ini terdengar bijak, tapi bisa jadi racun yang meninabobokan. Ia sering menyelinap sebagai nasihat, namun tanpa sadar menjerumuskan pada kemunduran. Kalimat ini sering dilontarkan, entah dari lisan seorang pemalas yang hidup tanpa visi, atau dari mereka yang benar-benar merasa bahwa dunia memang tak layak dikejar. Laut kemalasan memang menggoda, dan agama seringkali jadi pelampung darurat bagi mereka yang enggan berenang. Ini bukan fenomena satu-dua orang; ini epidemi yang diam-diam menjalar.
Tapi, pernah gak sih kita mendinginkan kepala sejenak dan mencoba untuk melihat ajaran yang dia pegang teguh itu? Toh, memang dunia itu cuman sementara, paling lama mungkin 100 tahun, setelah kita meninggal sudah tidak ada lagi kata “dunia” bagi kita. Terkait hidup tanpa visi, kalau ia berkata, “Visiku adalah ridho Allah” — mengapa kita merasa itu belum cukup mulia? Sejak kapan ridho Tuhan kalah keren dari visi tentang memajukan dunia?
Dewasa ini, agama memang sering menjadi kambing hitam dari kemunduran suatu bangsa dan lebih eksplisit lagi kemunduran seseorang. Ia dianggap sebagai penghambat manusia untuk mencapai cita-cita yang tinggi di dunia ini. Dalam sejarah eropa, “The Dark Ages” adalah bukti nyata bagaimana agama menghambat kemajuan. Ilmu pengetahuan dibekukan, gereja memonopoli kebenaran. Kalau ilmuwan punya pandangan berbeda — seperti Galileo — ia bisa menerima hukuman. Sebagian menyamakan kondisi umat Islam hari ini dengan “The Dark Ages” di Barat. Tapi mereka lupa, sejarah kegelapan Eropa muncul karena agama dilembagakan secara represif—sementara dalam Islam, ilmu justru tumbuh subur dalam naungan wahyu.
Apakah benar Islam seburuk itu? Apakah agama yang diciptakan Tuhan Yang Maha Bijaksana ternyata salah perhitungan? Atau Tuhan sudah tidak pantas memiliki gelar “Bijaksana” karena ternyata agama yang diciptakan membawa kemunduran suatu bangsa?
Islam dan Sejarah yang Terlupakan
Kita mungkin lupa bagaimana 14 abad yang lalu ada sebuah agama—dari jazirah gersang yang tak dikenal dalam peta kekuatan dunia kala itu— menggemparkan dunia dari ufuk barat Romawi sampai ke timur Persia. Perkembangan cepat dalam kurun waktu dua dekade adalah sebuah keajaiban bagi sebuah bangsa yang belum terbiasa dengan baca-tulis. Apalagi yang membawa agama ini adalah seorang yang tidak bisa baca-tulis juga.
Lalu, kita lupa bagaimana penganut agama ini dapat mencapai peradaban tertinggi dalam kurun waktu 4 abad. Dalam kurun waktu ini tidak ada peradaban yang lebih seimbang daripadanya.
Hari ini kita bicara soal AI dan komputer, seakan itu temuan murni dunia modern. Padahal pondasinya—dari “Algebra” hingga “Algorithm”—adalah warisan dari pemikir Muslim seperti Al-Khawarizmi. Dunia mungkin lupa asalnya, tapi jejaknya tetap bekerja di balik layar.
Kalau memang benar Islam membawa kemunduran, bagaimana bisa ia justru melahirkan kemajuan paling pesat dalam sejarah manusia? Apakah mungkin ajaran yang salah melahirkan arah yang benar? Atau jangan-jangan—yang keliru bukan ajarannya, tapi cara kita memahaminya hari ini?
Kesalahpahaman Hari Ini
Dari sekian banyak konsep Islam, zuhud adalah yang seringkali disalahpahami—bahkan oleh mereka yang mengaku kritis sekalipun. Banyak orang mengartikannya secara mentah sebagai “menjauhi dunia”, lalu menyalahkan ajaran ini sebagai biang kemunduran umat. Mereka mengklaim diri sebagai pencari kebenaran ilmiah tapi malah terjebak pada generalisasi populer, tanpa menelusuri makna aslinya dari sumber primer ajaran itu sendiri. Padahal, justru karena pemahaman yang setengah matang inilah umat terjebak dalam stagnasi spiritual dan intelektual. Bukan ajarannya yang salah, tapi cara kita mengunyahnya.
Dalam memahami zuhud, orang-orang biasanya langsung melompat pada hasil dari ajaran zuhud, yaitu meninggalkan dunia —yang sebenarnya kata ‘meninggalkan dunia’ ini harus ditafsiri lebih teliti lagi. Pada akhirnya tersebarlah stigma bahwa zuhud = jauh dari dunia, yang menyebabkan kesalahpahaman terhadap hakikat zuhud.
Mereka yang sok kritis dan ilmiah pun terkena efek domino ini. Alih-alih objektif dan menggali lebih dalam dari sumbernya, mereka lebih memilih makna mentah yang tersebar di antara manusia. Walaupun sebenarnya sah-sah saja, toh yang namanya bahasa adalah sebuah alat yang disepakati manusia untuk menunjukkan makna tertentu. Kalau mereka mau memaknai zuhud seperti itu, ya tak mengapa. Tapi yang jadi masalah adalah mereka menyudutkan agama karena kejadian ini. Padahal tak pernah sekalipun Islam sepakat dengan makna zuhud seperti yang dipahami orang-orang.
Imam Ghozali, dalam magnum opusnya “Ihya Ulum Ad-Din“, menjelaskan makna zuhud sebagai berikut:
عِبَارَةٌ عَنِ انْصِرَافِ الرَّغْبَةِ عَنِ الشَّيْءِ إِلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ
Mengalihkan kecintaan dari satu hal menuju sesuatu yang lebih baik darinya
Beliau menggambarkan zuhud dengan proses jual beli, penjual tentu senang memiliki barangnya, tapi uang yang ada di tangan pembeli lebih disenangi daripada barang tersebut. Sehingga, ia mengarahkan rasa senang dari barang miliknya menuju uang yang ada di tangan pembeli.
Dari penjelasan tersebut kita bisa menarik kesimpulan bahwa orang yang zuhud harus punya “modal” dasar sebelum dia masuk ke dalm maqom zuhud. Modal dasar tersebut adalah harta dunia yang ia miliki. Ia memang senang terhadap hartanya tapi tidak lebih besar daripada kesenangan terhadap Allah, karena itulah dia mengarahkan hartanya untuk digunakan di jalan Allah.
Maka, zuhud bukan menjauhi dunia karena benci, tapi karena tahu ada yang lebih pantas dicintai. Zuhud juga bukan berarti lari dari dunia. Ia adalah seni memilih — mengalihkan cinta dari yang fana kepada yang lebih kekal.
Kita hidup di zaman di mana kata “ambisi” dipuja, dan kata “zuhud” dicurigai. Kalau ada orang sederhana, dikira malas. Kalau ada yang memilih hidup tenang, dicap antikemajuan.
Di sini, penulis tidak melihat hubungan kausalitas pasti antara zuhud dan kemunduran seseorang di dalam dunia. Toh, kalau misal mau zuhud, seseorang harus sukses dulu di dunia karena ia butuh barang yang ‘di-zuhudi’. Berarti, dia harus maju dong untuk mendekat dengan segala macam produk dunia—jabatan, harta, makanan, pakaian.
Stigma zuhud = jauh dari dunia, harus dikembalikan ke jalur asalnya. Jauh dari dunia yang dimaksud adalah hati yang tidak tertaut dengan dunia. Hal ini selaras dengan kalam guru saya KH. Ali Maksum ketika menjelaskan zuhud. Beliau berkata : “Zuhud adalah melihat semua harta dunia seperti butiran pasir”. Orang mana yang hatinya tertaut dan senang dengan butiran pasir sampai menjaganya siang dan malam, takut kehilangan sampai stres terhadapnya?
Agama dan Dunia
Islam datang bukan untuk menjauhkan manusia dari dunia, tapi untuk mengajarkan bagaimana kita mengendalikannya. Kita bukan budak dunia, tapi khalifah atasnya. Adam bukan diturunkan untuk menghindari dunia, tapi untuk mengelolanya — zahir dan batin.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ
(Al Baqarah 2:30) : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”
Maka, Islam tidak pernah bertentangan dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang ada di dunia. Bukti nyatanya sudah kita lihat pada abad ke 7 – 11 Masehi, bagaimana di abad tersebut ilmu pengetahuan tumbuh dengan pesat dalam naungan Islam.
Kemalasan yang dimiliki seorang muslim tidaklah merepresentasikan Islam yang sebenarnya. Sebagaimana yang dikatakan Khabib Nurmagomedov “Islam itu sempurna dan aku tidak.” Dalam Islam kita diajari untuk tidak berpuas diri. Para ulama mengatakan bahwa:
أَصْلُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ
Penyebab setiap kesalahan adalah berpuas diri
Ini menunjukkan bagaimana spirit Islam itu sangat bertolak belakang dengan dugaan banyak orang bahwa Islam itu membawa kita dalam kemunduran.
Dalam Al-Qur’an sendiri Allah berfirman
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ
(Nasyrah 94:7) : Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,
Spirit ini —sekali lagi— menunjukkan bagaiamana Islam selalu mengajak pemeluknya untuk jangan bermalas-malasan setelah satu tugas selesai. Misalnya, setelah penelitian tentang ‘ini’ selesai maka hendakknya kita melakukan penelitian tentang ‘itu’ karena ilmu adalah samudera yang tidak kita ketahui apa saja yang ada di dalamnya kecuali setelah melakukan penyelaman.
Islam memang berkali-kali mengajak pemeluknya untuk menjauhi dunia. Tapi hey! kita harus lihat juga bagaimana ia selalu menekankan kata “Dunia adalah tipu daya” dalam setiap ajakan tersebut. Ini artinya dunia yang harus ditinggalkan adalah dunia yang menipu manusia, seperti dunia malam. Toh, bahkan para non-Muslim pun menjauhi dunia yang menipu demi bisa naik kelas dalam hidupnya.
Penutup
Besok lagi, sebelum kita melempar tuduhan-tuduhan jahat terhadap agama, cari tahu dulu apa yang sebenarnya diajarkan. Tanyakan dulu, apa visi hidup orang itu. Mungkin dia bukan gagal—tapi kamu yang belum paham standar kesuksesannya. Di dunia ini, Allah ﷻ memang menyiapkan beberapa hamba-Nya yang hanya bertugas untuk beribadah saja, sama seperti Dia menyiapkan beberapa hamba-Nya—seperti kamu—untuk berpikir visioner. Daripada menuduh agama, mempelajarinya agaknya lebih realistis agar bisa adil dalam menghukumi. Jangan-jangan, yang kamu tuduh tertinggal itu justru sedang melangkah di jalan yang kamu belum paham arah kompasnya. Atau jangan-jangan, ternyata kamu belum sesuai dengan ‘apa’ yang diinginkan oleh Allah?
Setelah halaman dimuat, matikan data seluler untuk terhubung dengan dirimu 💙


