Dibikin Kenyang Malah Kabur Aja Dulu

Dibikin Kenyang Malah Kabur Aja Dulu

“Kenyang”. Bukankah itu hal yang sangat sederhana? Perut terisi, kholas. Sebenarnya cuma itu. Apa pun makanan yang kita konsumsi, tujuannya tetap satu: melanjutkan hidup. Hehe. Akan tetapi, fitrah membawa kita untuk mencintai kenikmatan dan menghindari kebalikannya. Terbukti, dalam ranah kecil berupa “kenyang” pun kita pilih-pilih. Sama-sama ayam, kenapa kita memilih buka di Azhar dibanding tempat lainnya? Karena menunya dari Hadramaut Antar, kan? Hehe.

Jujur, setelah menyantap makanan yang lezat, terkadang saya justru merasakan penyesalan. Tentu saja bukan karena tidak bersyukur tetapi karena menyadari bahwa kenikmatan makanan itu ternyata sekadar numpang lewat di lidah, lalu menghilang sekian detik setelahnya, persis kayak dia. Bahkan, sering kali justru menyisakan rasa unik di perut apalagi bagi orang yang agak bermasalah dengan pencernaannya. Oleh karena itu, saya sering berjanji untuk tidak lagi memprioritaskan rasa. Asal aman dan sehat apa pun akan saya makan.

Namun setelah rasa kenyang itu hilang dan lapar muncul kembali, realitas bahwa enak hanya sekadar numpang lewat di lidah dan kenyang bisa diisi dengan apa saja pun sirna. Mata dan lidah seolah berkonspirasi, mengirimkan sinyal ke otak agar hanya menerima makanan yang lezat menurut mereka walaupun sering kali justru berakhir menyakiti bagian tubuh lainnya. Sayangnya, saya sering memilih yang nikmat itu dan benar-benar berakhir menyakiti diri sendiri.

Persis dengan apa yang dilakukan bangsa Eropa lima abad yang lalu. Demi aroma masakan yang menggugah selera, demi kunyahan yang bertahan sekian detik itu, mereka memilih menyakiti kemanusiaan selama berabad-abad. Ini cuma dramatisasi aja. Fungsi rempah-rempah sebenarnya bukan hanya untuk urusan lidah dan perut, tapi juga untuk mengawetkan makanan dan obat-obatan.
Pada tahun 1453, dunia digegerkan oleh keberhasilan Sultan Mehmed II (Muhammad Al-Fatih) dalam menaklukkan Konstantinopel. Sebuah peristiwa yang sebelumnya dianggap mustahil oleh umat manusia selama lebih dari satu milenium. Lautan yang membentang luas, pegunungan yang menjulang tinggi, ditambah benteng kokoh yang mengelilingi kota, membuat siapa pun yang ingin menaklukkannya dianggap gila. Bahkan, dalam kepercayaan Bizantium, tempat itu adalah “Kota Tuhan”. Konon, hanya kekuatan ilahi yang mampu menaklukkannya.

Namun mitos itu hancur di tangan Mehmed II, Muhammad Al-Fatih. Setelah kurang lebih tiga tahun mengepung dan menyusun strategi, ia akhirnya mampu menembus jantung pertahanan kota itu. Mungkin bisa dikatakan bahwa Al-Fatih menembus “Kota Tuhan” dengan para pasukan Tuhan. Dalam pidato kemenangannya, ia tidak menyebut dirinya sebagai pemimpin umat Islam, tapi juga agama Abrahamik lainnya.

Sejak saat itu, jalur perdagangan antara Asia dan Eropa berubah. Bangsa-bangsa Eropa yang selama ini bergantung pada jalur perdagangan Konstantinopel dan Alexandria harus mencari jalur lain bahkan kalau bisa menemukan sumbernya langsung. Konon pajak Utsmani sangat tinggi sedangkan Alexandria saat itu masih dalam monopoli dagang Mamalik-Venesia, harga barang pun melejit.
(Tentu saja banyak faktor lainnya)

Sayangnya, urusan lidah dan perut tidak bisa diganggu gugat. Mereka tetap bersikukuh ingin mendapatkan rempah-rempah itu walaupun harus mengelilingi dunia sekalipun. Apalagi gereja sudah ngebet menjalankan misi suci “gospel” sejak pembagian dunia dalam Perjanjian Tordesillas. Akhirnya, beberapa tahun setelah kejatuhan Konstantinopel, “The Spicy Road” atau dalam terjemahan liarnya “Penjajahan Nusantara” dimulai.


Portugis menjadi yang pertama tiba di Nusantara pada awal abad ke-16, khususnya di Maluku. Mereka datang dengan dalih berdagang tetapi dalam waktu singkat mulai memonopoli perdagangan rempah-rempah, bahkan menggunakan kekuatan militer untuk menjamah daerah-daerah yang masih perawan dengan numpang konflik Ternate-Tidore. Yah, mungkin mirip orang-orang dalam musibah truk ikan jatuh yang sering lewat di FYP itu. Bukannya serius membantu mereka justru rebutan ikannya. Lumayan, lauk seminggu.

Sayangnya, beberapa tahun setelah nyaman di Maluku, Spanyol datang dan membuat kegaduhan. Spanyol, setelah berhasil menemukan Filipina lewat jalur barat, ingin sekali merebut Maluku dari Portugis. Walhasil, misi suci yang mereka gemborkan itu justru mengalirkan darah-darah suci. Misi yang katanya disaksikan oleh Wakil Tuhan itu ternyata mengorbankan para hamba-Nya.
Sekian tahun setelahnya Belanda tak mau kalah. Pada 1602, mereka secara tegas mendirikan VOC, sebuah kompeni “dagang” berskala dunia yang berpadu dengan militer. Pembaca sejarah sudah pasti tahu maksud dari tanda petik pada kata “dagang” di atas. Singkatnya, transaksi rempah-rempah dan eksploitasi manusia. Hehe.

Jika kita renungkan, semua ini bermuara pada satu hal, hawa nafsu. Nafsu untuk berkuasa, kaya, dan menikmati rasa “enak tanpa batas” lah yang sejujurnya mereka inginkan. Gold dan Glory adalah inti, omong kosong dengan Gospel. Seingatku, Al-Ghazali pernah mengatakan bahwa cinta dunia, yang menjadi muara hawa nafsu, adalah dasar segala keburukan. Ketika seseorang tidak mampu mengendalikannya, ia bisa terdorong untuk melakukan apa saja demi memenuhi keinginannya, bahkan dengan cara yang sangat menjijikkan dan merugikan orang lain. Persis dengan perilaku para pejabat yang maha mulia itu.

Ingat awal puasa kemarin? Sebuah berita Pertamax oplosan yang hampir menandingi kejatuhan konstantinopel itu? Menakjubkan, memang. Para petani rela menyisihkan recehan sisa jualan padi agar motor kreditan mereka bisa kenyang bensin yang bergizi. Eh, ternyata malah minum oplosan. Beyond the madness, deeper than insanity…  (kalau salah betulin, ya)

Tak berselang lama, ratusan ton “gold” yang menjadi slogan utama penjajahan Eropa kala
itu, malah dipalsukan petinggi antam. Kurang gila apalagi? Kalau Portugis ke sini, mungkin
kepala mereka sudah tidak nyaman lagi nyambung dengan leher.

Yah begitulah. Sejarah kolonialisme, timah, oplosan,  ntam, dan kegilaan para pejabat lainnya adalah bukti nyata bagaimana nafsu yang tidak terkendali mampu menyebabkan penderitaan dan kegilaan skala dunia. Mungkin itu belum seberapa. Kita tunggu lagi kegilaan yang lainnya.

Kebetulan banget kemarin aku nonton serial apik di Netflik berjudul “Troy: Fall of City.” Film ini, sepertinya, adalah adaptasi dari epos Illiad karya Humerus yang terkenal itu. Film ini menceritakan sebuah Kerajaan yang makmur bernama Troy. Sayangnya, kerajaan ini harus berakhir tunduk di tangan orang-orang Sparta setelah sekian lama berperang dan mengorbankan puluhan ribu nyawa. Uniknya, obor peperangan besar itu tersulut hanya karena sepasang individu (Paris dan Helena) yang tak tahan menahan hasrat seksualnya.

Saat Paris, Pangeran Troy berkunjung ke Sparta, ia terpikat dengan Ratu Helena, Permaisuri Sparta yang memiliki paras dan tubuh yang aduhai. Karena perasaan keduanya saling tertaut, akhirnya mereka berdua bertindak konyol dengan lari menuju ke Troy. Tentu saja, hal itu menyulut kemarahan seluruh penduduk sparta dan aliansinya, yang kemudian menyebabkan pertumpahan darah masal.
Benar. Sejauh itulah perilaku yang bisa dilakukan para pengabdi nafsu. Mereka memang bukan yang gagal kaya tapi mereka gagal menggembala nafsunya. Namun sebaliknya, jika nafsu mampu dikontrol dan diarahkan ke arah yang baik, maka keadilan, stabilitas, dan kesejahteraan umat manusia pun akan terjaga, persis seperti yang dilakukan Al-Fatih dalam pembebasan Konstantinopel 5 abad yang lalu. Hehe.
Di sinilah puasa memiliki peranan pentingnya. Selain bentuk penghambaan kepada Tuhan,
pada hakikatnya ia adalah media untuk melatih hawa nafsu agar sesekali tidak merasa
“kenyang dan enak”.

Di akhir ayat tentang kewajiban puasa, Allah seakan ingin mengatakan “Siapa tau dengan
berpuasa, nafsumu bisa terkendali, penghambaan dan duniamu tidak sehancur ini”

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Imam Bushiry berabad-abad lalu mengingatkan:

واخْشَ الدَّسَائِسَ مِن جوعٍ ومِن شِبَعٍ    فَرُبَّ مخمَصَةٍ شَـــرٌّ مِنَ التُّـخَمِ

Waspadalah terhadap tipu daya kenyang dan lapar. Sangat sedikit rasa lapar yang lebih berbahaya dari kenyang.

Yang ingin ditekankan Imam Bushiry di sini bukan sekedar kenyang atau lapar, tapi bagaimana nafsu yang tidak terlatih itu bisa berbahaya dalam keadaan apapun, baik dalam keadaan kenyang maupun lapar.

Mengendalikan nafsu memang sangaaat sulit. Dilawan bikin kepala nyut-nyutan, nggak dilawan bikin hancur dunia akhirat. Sebab itulah para ulama’ memiliki sekian metode yang bisa dibilang agak unik. Mulai dari puasa dalail, puasa mutih, hingga berbagai metode lainnya. Seseorang pernah bertanya kepada Umar Bin Abdul Aziz,

“Kapan Saya harus ngomong?”
“Ketika kamu sangat ingin diam”, jawab Umar.
“Kapan Saya diam?”Ia bertanya lagi.
“Ketika kamu sangat ingin ngomong.”

Malik Bin Dinar suatu saat berkeliling di pasar. Setiap kali ia menginginkan sesuatu, ia justru bilang “Sabarlah, wahai nafsu. Demi Allah, Aku tidak mencegahmu kecuali karena kamu sangat mulia bagiku”. Unik, kan? Mirip kamu yang suka ngeranjangin barang-barang di shopee, tapi nggak ada satu pun yang kamu check out.

Memang, Islam tidak melarang kita untuk mengikuti kata nafsu, asalkan masih dalam koridor halal. Akan tetapi, jika nafsu tidak dilatih dengan segala mujahadahnya, dan suatu saat dihadapkan pada situasi yang sulit, tak jarang ia tergelincir ke dalam hal-hal yang diharamkan, seperti apa yang dikatakan Imam Murtadlo Zabidy dalam ithafnya, “Karena nafsu, jika tidak dicegah dalam sebagian perkara yang mubah, maka dia akan sangat tertarik untuk melakukan hal-hal yang diharamkan. Barang siapa yang ingin menjaga lisannya dari ghibah dan fudhul, maka ia harus diam, kecuali untuk bedzikir atau membicarakan hal-hal penting dalam agama, sehingga syahwat untuk berbicara pun mati.”

Ketika Muadz Bin Jabal diutus ke Yaman, Nabi berpesan kepadanya:

إِيَّاكَ وَالتَّنَعُّمَ فَإِنَّ عِبَادَ اللهِ لَيْسُوْا بِالْمُتَنَعِّمِيْنَ

Waspadalah terhadap kesenangan, Hamba Allah sejati bukanlah mereka yang bersenang-senang
Maksud dari tana’um di sini adalah terlalu berlebihan dalam mencari kesenangan dan terlalu mudah didikte oleh nafsu, bukan larangan menikmati Syawarma Karam Syam dari Azhar.
Pada akhirnya, kita berada di persimpangan jalan: apakah kita akan terus menyuapi hawa nafsu dan menyebabkan kerusakan, atau justru berdarah-darah mengendalikanya dan menciptakan perbaikan?

Mungkin, jika manusia mau merenungi hakikat puasa, merenungi apa makna latihan tidak kenyang, dan apa makna terbiasa dengan kehambaran (seperti tulianku ini, hehe), Indonesia tidak akan se-“gelap” ini, dan bangsanya tidak akan se-“kabur aja dulu” itu.

Jadi, tetap mencintai makan siang gratis yang katanya lezat dan mengenyangkan itu atau milih pendidikan yang mengajarimu cara mengendalikan hawa nafsu? Milih makan aja, Pak,makanannya nggak lezat dan mengenyangkan, kok. Jadi sekalian latian nahan nafsu.

Ref
1. Ithafus Sadah Almuttaqin
2. Syarah Burdah Syaikh Baijury
3. Mirqotul Mafatih

Khafka.id
Penulis

Seorang akademisi yang berkuliah di Fakultas Dirasat Islamiyyah, Al-Azhar, Cairo. Menggeluti sejarah peradaban Islam, Teologi, dan Sastra Arab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like